MESJID OMAN ALMAKMUR RAIH PERINGKAT KE-2 MESJID TELADAN NASIONAL

Banda Aceh | Masjid Oman Al-Makmur

Mesjid Oman Almakmur kembali meraih gelar terbaik, kali ini Mesjid ini dinobat sebagai mesjid teladan ke-2 Nasional yang sebelumnya juga pernah menadapatkan penghargaan. Demikian berita gembira ini yang disampaikan kepada redaksi masjidomanalmakmur.id oleh Bapak Taufik Almusawar Sekretaris Dewan Pengurus BKM Almakmur Lampriek.

Kata beliau Mesjid Oman terpilih dalam program penghargaan Mesjid Teladan yang diselenggarakan oleh BNI Syariah pusat, Jakarta. Program ini merupakat salah satu rangkaian acara Milad Satu Dekade BNI Syariah.

Dalam acara tersebut, BNI Syariah mengikutsertakan 197 Mesjid pilihan Se-Indonesia, kemudian akan diverifikasi oleh panitia pelaksana. Selanjutnya 7 Mesjid yang dengan score tertinggi diwajibkan untuk mengirimkan data-data yang dijadikan subjek penilaian. Alhasil, Mesjid Oman masuk dalam 3 besar yang kemudian terpilih menjadi mesjid nomor 2 teladan nasional.

Menurut Pak Taufik bahwa Abu Ketua BKM Almakmur Ustadz Dr. Drs. Tgk H. M. Jamil Ibrahim, S.H., M.H., M.M.,nmengatakan “Syukur kepada Allah SWT yang telah diberikan cita cita kepada kita, mesjid telah menjadi sarana terbaik untuk dakwah dan persatuan”. Ia menlanjutkan, terimakasih atas semua para petugas dan Jamaah yang telah senantiasa ikut memakmurkan mesjid sehingga apa yg kita cita citakan bersama alhamdulillah terlah tercapai sehingga Mesjid kita ini terpilih sebagai Mesjid Publik nomor 2 terbaik. Ini keberhasilan bersama, dan bukan kehendak BKM saja namun keberhasilan itu capaian kolektif tundasnya.

Sebagaimana kita ketahui, lanjut pak Taufik bahwa Mesjid Oman almakmur menjadi Ikon yang mirip Mesjid Ala Timur Tengah, mesjid ini selalu memberikan kenyamanan ibadah dan tidak pernah berhenti menjadikan sebagai sarana pemersatu umat dan kegiatan sosial. Dalam hal ini, pemerintah Gampong melalui Tgk. Mahyuni selaku Keuchik Gampong Lamprid/Bandar Baru juga ikut mengucapkan terimkasih kepada BNI Syariat atas kepercayaan terhadap Mesjid Oman yang dipilih sebagai penerima penghargaan Mesjid Publik terbaik nomor 2 Nasional. “”Ini merupakan apresiasi yang luar biasa, dan capaian itu kita peroleh berkat dukungan semua pihak terutama masyarakat Gampong Lamprid yang telah ikut berpartisipasi untuk memakmurkan mesjid dan mengikuti program program mesjid” tutup Geuchik Gampong Lampriek Kota Banda Aceh.

Kegiatan lomba masjid ini diselenggarankan dari Bulan April, hingga beberapa bulan kemudian baru di Bulan Juni diumumkan pemenangnya.

Shalat Kusuf Tanggal 21 Juni 2020 di Masjid Oman Almakmur

Banda Aceh | Masjid Oman Almakmur

Berdasarkan data perhitungan tim falakiyah Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, bahwa pada hari Ahad tanggal 21 Juni 2020 M, bertepatan dengan tanggal 29 Syawal 1441 H. akan terjadi fenomena alam yang berkaitan dengan ibadah umat Islam berupa gerhana matahari sebahagian (GMS) di wilayah Indonesia. Untuk Wilayah Provinsi Aceh, GMS akan terjadi pada pukul :

a. Awal kontak gerhana : 13:18:09 WIB
b. Puncak gerhana : 14:35:21 WIB
c. Akhir kontak gerhana : 15:42:21 WIB
d. Lama gerhana : 2 jam 24 menit
e. Posisi gerhana : 334 derjat sampai 279 derjat dari titik utara

Sehubungan dengan terjadinya gehana matahari sebahagian tersebut, maka di Masjid Oman Al-Makmur akan diadakan shalat sunnah kusuf pada saat terjadi GMS, yang diimami oleh seorang Imam Masjid Al-Makmur dan yang bertindak sebagai khatib adalah Ir. H. Faisal Adriansyah, MSi.

Ada dua istilah dalam penamaan gerhana, kusuf (كسف) dan khusuf (خسف). Keduanya adalah sinonim. Jika kedua nama tersebut disebutkan secara bersamaan, maka makna kusuf untuk gerhana matahari dan khusuf untuk gerhana bulan. Dua penyebutan dengan nama yang berbeda seperti ini lebih masyhur di kalangan fuqaha’. Namun kadangkala ada penyebutan kusufaini dan khusufaini yang keduanya bermakna dua gerhana, yaitu matahari dan bulan.

Pada dua kejadian alam ini, gerhana matahari dan bulan, ada shalat yang disyariatkan oleh Rasulullah SAW, yaitu shalat gerhana. Rasulullah Bersabda:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى تَنْكَشِفَ (رواه مسلم

Artiya: “sesungguhya matahari dan bulan merupakan dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Dan keduanya tidak akan megalami gerhana karena sebab kematian dan kelahiran seseorang. Jika kalian melihatnya (kedua gerhana) maka berdoalah kepada Allah dan kerjakanlah shalat hingga hilang gerhananya.” (HR. Muslim)

Hukum Sholat gerhana dan Tatacara pelaksanaannya:

Secara hukum taklifi, shalat kusuf asy-Syams atau gerhana matahari, jumhur ulama berpendapat bahwa hukumnya sebagai sunnah muakkadah bagi setiap muslim dan dilakukan secara berjamaah. [shohih fiqh as-Sunnah, vol. 1 hal. 381]. Adapun shalat khusuf al-qamar atau shalat gerhana bulan, ulama berbeda pendapat. Ada yang megatakan dilakukan sendiri-sendiri ada juga yang mengatakan dilakukan secara berjamaah sebagaimana shalat gerhana matahari.

Namun, DR. Wahbah Az Zuhaili dalam kitabnya Mausuah al Fiqh al Islami wa al Qadaya al Mu’ashirah, vol. 2, hal. 353 beliau mengatakan: “shalat gerhana, baik matahari maupun bulan, bisa dilakukan dengan berjamaah atau pun sendiri-sendiri, baik sirr maupun jahr, dengan khutbah maupun tanpa khutbah sesuai ulasan (perbedaan pedapat) pada masing-masing madzhab. Namun mengerjakannya di masjid secara berjamaah lebih utama karena Rasulullah pernah melakukannya demikian (jamaah di masjid)”.

Tatacara pelaksanaan:

Adapun tatacara pelaksanaan shalat gerana, baik matahari maupun bulan, DR. Wahbah Az Zuhaili meringkaskan pendapat jumhur fuqaha’ dari bebrapa kitab yang dinukilnya. [al Qawanin al Fiqhiyah, hal. 88, Bidayatul Mujtahid, vol. 1, hal. 203, Mughni Al Muhtaj, vol. 1, hal. 317, dll]

  1. Sholat gerhana dilakukan dua rakaat tanpa adzan dan iqomah. sebelum pelaksanannya dianjurkan untuk membaca as sholata jamiah oleh perwakilan jamaah. Sebagaimana hadis dari Aisyah r.a:

    أَنَّ الشَّمْسَ خَسَفَتْ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَبَعَثَ مُنَادِيًا «الصَّلاَةَ جَامِعَةً»، فَاجْتَمَعُوا وَتَقَدَّمَ فَكَبَّرَ، وَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ في رَكْعَتَيْنِ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ (رواه مسلم
  2. Artinya: “Pada zaman Nabi Pernah terjadi gerhana matahari, kemudian beliau (Nabi) mengutus seorang penyeru untuk mengucapkan “Ash sholat Jamiatan”. Kemudian orang-orang berkumpul dan Nabi maju (untuk imam) dan memulai sholatnya dengan empat ruku’ dan empat sujud” [HR. Muslim]

  3. Masing-masing rakaat terdiri dari: dua berdiri, dua bacaan (al Fatihah kemudian surat) dan dua ruku’ serta dua sujud. Secara keseluruhan 2 rakaat ada 4 ruku’, 4 berdiri, 4 al Fatihah dan surat, dan 4 sujud.

  4. Rakaat pertama:
    1. Berdiri pertama, membaca al Fatihah kemudian surat, disunahkan surat al Baqarah atau yang sepanjang al Baqarah.

    2. Kemudian rukuk dan berdiri kembali (berdiri kedua) sembari membaca “samiallahu liman hamidahu. Rabbana lakal hamdu”.
      Membaca “samiallahu liman hamidah. Robbana lakal hamdu” setiap kali bangun dari rukuk sebagaima shalat yang lain. [DR. Fauzan bin Abdullah al Fauzan, al Mulakhas al Fiqhi, vol. 1, hal 205].

    3. Bediri kedua membaca al Fatihah dan surat yang lebih pendek dari al Baqarah. Kira-kira 200 ayat seperti Ali Imran.

    4. Kemudian rukuk dan iktidal
    5. Sujud 2 kali kemudian berdiri untuk rakaat ke dua.

  5. Rakaat kedua:
    1. Rakaat kedua sama sebagaimana rakaat pertama. Namun diakhiri dengan tasyahud dan salam.

    2. Berdiri ketiga, disunahkan membaca surat yang lebih pedek dari Ali Imron, yaitu sekitar 150 ayat seperti surat An Nisa’.

    3. Dan berdiri keempat membaca suarat yang lebih pedek dari berdiri ketiga, sekitar 100 ayat seperti surat al Maidah.

      Bacaan surah panjang setelah bacaan surat alfatihah itu sifatnya hanya anjuran bukan wajib. Karena bacaan bacaan panjang mempunyai tujuan, di antaranya, untuk menunggu berakhirnya peristiwa gerhana. Bahkan panjangnya bacaan bisa saja disesuaikan dengan lamanya peristiwa gerhana menurut perkiraan para ahli.

      Jahr dan sirr atau mengeraskan dan memelankan bacaan [DR. Wahbah Az Zuhaili dalam kitabnya Mausuah al Fiqh al Islami wa al Qodoya al Mu’ashiroh, vol. 1, al 358].

      Untuk sholat gerhana bulan atau khusufu al Qomar ulama bersepakat untuk megeraskan bacaan sebagaimana sholat-sholat sunah yang dilakukan malam hari dan bisa berjamaah.

      Namun untuk masalah sholat gerhana matahari atau kusufus asy syams ulama berbeda pedapat.

      1. Pendapat pertama mengatakan bacaan pada sholat gerhana matahari dibaca dengan sirr atau pelan. Dasar pendapat ini antara lain hadis dari Samurah yang berbunyi:

        صلى بنا النبي صلى الله عليه وسلم في كسوف لا نسمع له صوتا

        Artinya: “Rasulullah mengimami kami dalam sholat kusuf (gerhana matahari) dan kami tidak mendengar suara apa pun.” (HR. An Nasai, Abu Daud, Tirmdzi dan Ibn Majah)

        Imam At tirmidzi menilai hadis ini sebagai hadis hasan shohih

        Dalil yang kedua: bahwa shalat kusuf dilakukan pada siang hari, maka dibaca sirr sebagaimana sholat sunah siang yang lain.

        Pendapat ini dipilih oleh jumhur ulama diantarnya; Imam Abu Hanifah, Al Malikiyah dan Asy Asyafiiyah.

      2. Pendapat kedua mengakatakan untuk mengeraskan bacaan pada dua gerhana, matahari dan bulan. Pendapat ini dipilih oleh Madzhab Hanbali dengan dasar antara lain hadis dari Aisyah r.a :

        أن النبي صلى الله عليه وسلم جهر في صلاة الخسوف بقراءته فصلى أربع ركعات في ركعتين، وأربع سجدات
        أخرجه البخاري ومسلم وفي لفظ : ( صلى صلاة الكسوف فجهر بالقراءة فيها) . رواه الترمذي وصححه .

        Artinya: “bahwa Rasulullah SAW mengeraskan bacaannya pada Sholat Khusuf (gerhana bulan) dengan empat rukuk dalam dua rakaat dan empat sujud” (HR. Bukhari dan Muslim) dalam riwayat yang lain “Rasulullah mengerjakan sholat kusuf (gerhana matahari) dan mengeraskan bacaanya” (HR. At Tirmidzi, hadis ini ada di dalam kitab Nailul Author)

        Namun Imam Asy syaukani mengatakan dalam masalah ini bahwa mengeraskan bacaan lebih utama dari pada memelankannya.

        “أن الجهر أولى من الإسرار”

        (Nailul Author, vol. 3, hal. 394 milik Imam Asy Syaukani)

    Khutbah sholat gerhana

    Tentang ada dan tidaknya khutbah setelah sholat gerhana, ulama pun berbeda pendapat. Ada yang mengatakan khutbah disyariatkan dan ada yang mengatakan tidak ada.

    Pendapat pertama: Ada khutbah (Al Majmuk, vol. 5, hal. 52, Fatthu Al Bari, vol. 2, hal, 620, Bidayatul Mujtahid, vol. 1, al 311)

    Pedapat ini didasari oleh hadis:

    إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى تَنْكَشِفَ (رواه مسلم

    Artiya: “sesungguhya matahari dan bulan merupakan dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Dan keduanya tidak akan megalami gerhana karena sebab kematian dan kelahiran seseorang. Jika kalian meliatnya (kedua gerhana) maka berdoalah kepada Allah dan kerjakanlah sholat hingga hilang gerhananya.” (HR. Muslim)

    Secara tegas Rasulullah SAW melakukan khutbah setelah menunaikan sholat gerhana. Pendapat ini dipilih oleh kalangan Syafiiyah. Bahkan mereka menegaskan bahwa khutbah ini hukumnya sunah sebagaimana khutbah setelah shalat iedain dan istisqa’.

    Pendapat kedua: Tidak ada khutbah

    Pendapat kedua juga menggunakan hadis yang dipakai oleh pendapat pertama. Namun mereka mentakwilkannya sehingga khutbah Rasulullah bukan sebagai kesunahan. Karena khutbah beliau ketika itu hanya ingin memperjelas bahwa gerhana bukanlah peristiwa yang menyertai kematian dan kelahiran seseorang, termasuk wafatnya pura beliau yang bertepatan dengan peristiwa gerhana. Pendapat ini dipilih oleh kalangan Malikiyah, Hanafiyah dan Hanabilah. (Al Badik vol.1, hal. 282, Al Muhgni, vol. 2, hal. 425)

    Penutup:

    Sebagaimana kita maklum, meskipun ada beberapa perbedaan pendapat ulama dalam hal pelaksaan sholat gerhana, dari jahr atau sirr, dengan khutbah atau tidak, namun di Masjid Oman Al-Makmur shalat sunnat kusuf akan dilaksanakan seperti yang sudah-sudah, bacaan Imam secara jahr dan ada khuthbah yang menyampaikan ilmu pengetahuan dan taushiyah yang sangat bermanfaat.

Ketua Dewan Pengawas BKM Al-Makmur Jadi Kadisperindag Aceh


Banda Aceh | Masjid Oman Al-Makmur

Pengurus BKM Al-Makmur dan anggota masyarakat Gampong Bandar Baru Kecamatan Kuta Alam Banda Aceh memanjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT atas kepercayaan Pemerintah Aceh yang telah mengangkat dan melantik Ir. Mohd. Tanwier, MM sebagai Kepala Dinas Perindustrian dan Perdangan Aceh.

Dalam kepengurusan BKM Al-Makmur Bandar Baru (Lampriek) periode 2020-2024 Ir. Mohd. Tanwier, MM yang terkenal dengan panggilan Pak Baong dipercayakan sebagai Ketua Dewan Pengawas. Badan Kepengurusan Masjid (BKM) Al-Makmur berdasarkan Surat Keputusan Keuchik Gampong Bandar Baru, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh Nomor 19 Tanggal 10 Februari 2020 terdiri dari atau merupakan gabungan dari empat Dewan di dalamnya, yaitu Dewan Pembina yang diketuai oleh Camat Kuta Alam, Dewan Penasehat yang diketuai oleh Prof. Dr. Drs. H. Nazaruddin AW, MA., Dewan Pengawas yang diketuai oleh Ir. H. Mohd. Tanwier, M.M., Dewan atau Majelis Imam yang diketuai oleh Ustadz Ir. H. Fauzan Zakaria, M.Si., dan Dewan Kepengurusan yang diketuai oleh Abu Dr. Drs. Tgk. H. M. Jamil Ibrahim, S.H., M.H., M.M. Pengurus BKM Al-Makmur tersebut adalah hasil pemilihan Musyawarah Besar (MUBES) Masyarakat Gampong Bandar Baru yang panitia mubesnya dibentuk dengan SK Keuchik Gampong Bandar Baru.

Pak Baong juga aktif dalam kepengurusan Koperasi Al-Hilal sebagai sebuah organisasi ekonomi yang dimiliki dan dioperasikan oleh pengurus BKM, jamaah Masjid Oman Al-Makmur dan masyarakat yang telah memenuhi syarat keanggotaan demi kepentingan bersama. Beliau terpilih sebagai anggota Badan Pengawas koperasi tersebut.

Kiprah Pak Baong dalam birokrasi pemerintahan memang tidak diragukan lagi, beliau ini sudah memiliki jam terbang yang memadai di lingkungan birokrasi pemerintahan di Aceh. Dia dikenal sebagai PNS yang lama berkecimpung di Dinas Pekerjaan Umum. Dia tercatat pernah memimpin sejumlah dinas, baik di kabupaten maupun provinsi. Terakhir, ia pernah menjabat sebagai Pj Bupati Aceh Tengah.

Rumah pribadi tempat tinggal beliau di Jalan Pari Gampong Bandar Baru (Lampriek) bersebelahan dengan Meunasah Baitul Makmur Gampong Bandar Baru, maka tidak heran kalau Pak Baong sering shalat berjamaah di meunasah ini dengan pakaian gamisnya. Habis shalat dan memanjat doa tidak langsung balik kanan pulang kerumah, apalagi kalau ada H. Edi Akhyar muazzin senior meunasah tersebut ada saja topik-topik pembicaraan yang hangat beliau perbincangkan berdua sambil menghirup dan melepaskan asap rokok masing-masing.

Setelah beberapa lama vacum bahkan sempat ada yang menduga beliau sudah pensiun dini, kini Pak Baong telah ditarik kembali ke alam birokrasi pemerintahan Aceh sejak hari Rabu tanggal 10 Juni 2020 bertepatan dengan tanggal 18 Syawal 1441 H., masa-masa santai yang pernah dinikmatinya selama ini akan segera sirna dengan beban tugas dan tanggung jawab yang terpundak dibahu beliau sekarang di Disperindag Aceh. Namun demikian sesibuk apapun beliau di sana, kita tentu masih mengharapkan ada waktu-waktu yang terluang yang bisa beliau hibahkan untuk memikirkan dan mengarahkan demi kemakmuran Masjid Al-Makmur dan Koperasi Al-Hilal Lampriek. Selamat bertugas Pak Baong dan mudah-mudahan amanah Pemerintah Aceh yang telah dipercayakan kepada bapak dalam sektor perindustrian dan perdagangan dapat dijalankan dengan baik sebagaimana mestinya. Akankah kontiner-kontiner barang masuk ke Aceh masih dikembalikan ke pelabuhan asal dalam keadaan kosong setelah barangnya dibongkor di Aceh tanpa mengisi dengan barang-barang dagangan hasil pertanian dan industri dari Aceh sebagaimana terjadi selama ini ? Mudahan-mudahan Allah SWT memberi cara dan kemampuan kepada pak Baong dalam mengubah kondisi ini.