SEKILAS INFO
  • 3 tahun yang lalu / Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Selamat datang di website Masjid Oman Almakmur Banda Aceh Mudah-mudahan informasi dan data yang kami sajikan bermanfaat bagi bagi para Pengunjung
  • 3 tahun yang lalu / DIRGAHAYU HUT RI KE 77 DIRGAHAYU HUT RI KE 77 DIRGAHAYU HUT RI KE 77 DIRGAHAYU HUT RI KE 77  
WAKTU :

KHALID DAN KEMERDEKAAN

Terbit 17 Agustus 2021 | Oleh : abuabdurrahman | Kategori :
KHALID DAN KEMERDEKAAN

Oleh : Wisnu Tanggap Prabowo (Penulis Sejarah Keislaman)

Siapa yang tak mengenal Aleksander, Julius Caesar, dan Napoleon? Mereka semua dikenal sebagai jenderal perang legendaris, pahlawan bagi bangsanya, dan dikenang warga dunia. Tayangan film, dokumenter, buku, hingga karya seni banyak menggambarkan sosok mereka. Meski ketiga jenderal perang itu mewakili superioritas peradaban barat, mereka juga cukup dikagumi di belahan timur.

Ilustrasi Perang (Foto : Islam Knowledge Library)

Namun kita umat Islam perlu mengingat kembali ke dalam lembaran sejarah kita. Sebab, sejarah membentuk identitas. Identitas ini dapat diintervensi oleh pihak luar yang memiliki kepentingan atau kecenderungan cara pandang tertentu. Umat muslim memiliki jati diri yang khas, identitas dengan karakter yang kuat. Ciri khas keislaman itu juga melekat dalam identitas kebangsaan kita, kebhinekaan kita.

Dalam sejarah militer, Khalid bin Walid merupakan jenderal yang istimewa. Dalam banyak aspek kualitasnya melampaui ketiga jenderal barat yang disebutkan sebelum di atas. Khalid melampaui Aleksander karena Khalid tidak pernah melakukan pembantaian, menyiksa penduduk kota dan negeri taklukan. Sejarawan barat sampai pada konsensus bahwa Aleksander menyembah banyak tuhan sementara Khalid adalah seorang muwahhid.

Khalid melampaui Julius Caesar dan Napoleon dari catatan kemenangan. Dari 100 pertempuran (sebagian mengatakan 200), Khalid tak pernah terkalahkan. Sekitar 50 pertempuran di antaranya merupakan pertempuran besar. Angka itu tidak pernah dicapai oleh siapapun di peradaban manapun, di zaman apapun dalam sejarah yang tercatat.

Bukan saja rekor kemenangan 100%, lawan yang Khalid hadapi bukanlah kabilah badui di pedalaman gurun melainkan dua imperium adidaya; Romawi Timur dan Persia. Pasukan muslimin yang Khalid pimpin tidak memiliki persenjataan istimewa, tidak mengantungi jam terbang melimpah, tidak terdidik di akademi militer (Persia dan Romawi memiliki semacam akademi militer), dan bertempur dengan logistik yang “apa adanya”. Tentu ini bertolak-belakang dengan aset dan struktur organisasi militer Romawi dan Persia. Khalid dan kaum muslimin menekuk dua imperium dunia dalam waktu yang nyaris bersamaan.

Maka tidaklah mengejutan jika dalam buku History’s Greatest Generals, Khalid diletakkan sebagai salah satu jenderal yang merevolusi peperangan dan mengubah sejarah. Penulisnya, Michael Rank, berkata:

“Khalid memberi inspirasi kepada para jenderal perang pada hari ini melalui kesuksesannya di medan tempur terlepas dari jumlah pasukan yang lebih inferior.” (Halaman 59-60)

Meski tidak mengenyam pendidikan militer, belum memiliki jam terbang mumpuni menghadapi Persia dan Romawi, atau memiliki buku manual perang sebagaimana Romawi Timur memiliki Strategikon, tetapi Khalid bin Walid merupakan master strategist. Jika melihat ekspedisi militernya, Khalid sangat menguasai the art of war.

“Seni perang” berbeda dengan “sains perang”. Seni perang didapat dari intuisi tajam, talenta yang mengendap, kecerdasan, dan insting yang terbentuk oleh pengalaman. Sains perang di lain sisi merupakan hal-hal empirik yang dapat dikalkulasi semisal jumlah logistik, rute ekspedisi militer, dan formasi pasukan berdasarkan textbook.

Maka tidaklah terlalu mengejutkan ketika David Nicolle menulis dalam bukunya berjudul Yarmuk 636 ADKhalid merupakan salah satu dari ahli taktik terhebat dalam sejarah militer. (Lihat Yarmuk 636 AD, The Muslim Conquest of Syria. Osprey Military Campaign Series, London, 1994. Hal. 19)

Hanya saja, Khalid bin Walid tidak banyak diangkat Hollywood, sosoknya tidak dilukis oleh seniman Eropa, kisahnya jarang diangkat ke dalam novel, namanya pun seakan redup dalam narasi sejarah militer di barat.

Apa yang membuat Khalid dan pasukan muslimin digdaya bukanlah dari aspek materi saja semisal persenjataan, perbekalan, dan pengalaman. Apa yang membuat mereka mampu menggulung dua imperium; Romawi dan Persia, nyaris dalm waktu bersamaan, adalah aspek hati.

Aspek-aspek yang ada dalam Khalid bin Walid itulah yang dapat kita temukan sebagiannya dalam sepak terjang Pangeran Diponegoro dan Jenderal Sudirman, rahimahumallah. Mereka bukan saja berperang demi tanah air, nasionalisme, kesukuan, atau mengharap harta rampasan perang. Mereka merupakan pejuang yang berperang sebagai seorang muslim, sebagai mujahidin, sebagai patriot. Maka, cinta tanah air dan agama dalam Islam tidaklah berbenturan.

Kedua tokoh nasional di atas merupakan dai dan penuntut ilmu, guru dan penggiat dakwah, mereka bukan pemecah belah dan pembuat onar, meski kaum penjajah memandang keduanya radikalis, ekstrimis, teroris.

Pangeran Diponegoro seorang pecinta ilmu. Beliau belajar kepada banyak kyai, salah satunya adalah KH Nur Muhammad Ngadiwongso di Salaman, Magelang. Beliau juga seorang yang faqih dan mencintai hikmah. Di antara guru lainnya adalah KH Baidlowi Bagelen dan KH Abdurrauf dari Magelang. Ia juga seorang santri di Pesantren Api Tegalrejo, pesantren tempatnya ber-mujahadah.

Selain penuntut ilmu, beliau gigih di medan perang. Gerakan gerilyanya membuat Belanda kehilangan 8000 tentara. Belanda lelah.  Akhirnya Belanda menggunakan cara khianat untuk menangkapnya. Cara khianat dikutuk dalam Islam. Perang gerilya ini merupakan salah satu metode perang Khalid. Sebab, bangsa Arab menggunakan taktik charge and attack ini dalam peperangan antar kabilah atau ketika merampok iringan dagang di zaman jahiliyah dulu yang kemudian diadopsi dalam masa penaklukan negeri-negeri.

Jenderal Soedirman pun demikian, Beliau memiliki semangat berdakwah yang tinggi. Saat berdakwah, dia lebih banyak menekankan ajaran tauhid dan menekankan kesadaran berbangsa. Bagi beliau, dengan membenahi tauhid maka akan timbul dengan sendirinya semangat jihad untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah.

Salah satu manuver brilian Jenderal Sudirman adalah ketika beliau menggunakan taktik Supit Urang (double envelopment) dalam Pertempuran Ambarawa. Taktik ini merupakan trademark dari taktik Khalid bin Walid dalam pertempuran Walaja dan Firaz. Taktik ini melumpuhkan lawan dengan mengapit kedua sisi musuh.

Khalid, Pangeran Diponegoro, dan Jenderal Sudirman menunjukkan bahwa kemerdekaan dan fitrah keislaman tidak pernah bisa dilepaskan. Oleh karenanya, tidak ada pertentangan antara cinta tanah air dengan jihad. Membela tanah air dan membela rakyat yang dizalimi, ditindas, dirampas hak-haknya, dibajak sejarah dan identitasnya, adalah kemungkaran yang terang-benderang yang harus segera dienyahkan. Inilah semangat yanh juga terkandung dalam Pancasila sebagai ideologi negara.

Sebab, ketika penjajah barat datang ke suatu negeri, mereka merampas hasil bumi, menguras sumber daya manusia, membajak sejarah, dan berlaku sewenang-wenang.

Bandingkan dengan Islam. Ketika Islam datang ke suatu negeri maka negeri itu aman, banyak ulama dan cendekiawan lahir di negeri itu, maju ilmu pengetahuannya, baik arsitekturnya, giat literasinya, dan berkah negerinya.

Hati merdeka dari penyembahan kepada selain Allah, hati yang terbebas dari kecenderungan duniawi dengan berlebihan, hati yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, hati yang tak gentar mati di Jalan Allah, hati yang mengharapkan Ridho Allah saat menempuh payahnya peperangan. Ini semua “senjata” yang tidak dimiliki dua imperium adidaya saat itu.

Hati yang merdeka inilah yang kemudian membebaskan negeri-negeri, kota-kota, benteng-benteng. Inilah kemerdekaan hakiki, lepas dari belenggu kesyirikan dan cinta dunia serta takut mati. Inilah kualitas yang juga dimiliki oleh para sahabat Nabi lainnya yang berperang dalam pembukaan negeri-negeri di abad 7 M.

Khalid, Diponegoro, dan Sudirman, tidaklah berperang hanya untuk mengusung bendera ashabiyah atau didorong oleh penguasaan wilayah baru, budak tawanan, harta rampasan perang, atau gengsi semata. Jika mereka berperang hanya untuk dunia maka wilayah yang mereka buka tidak akan lestari. Wilayah yang dahulu Genghis Khan kuasai, Napoleon taklukan, atau Aleksander jelajahi tidak memiliki bekas pada hari ini. Adapun pembukaan begeri-negeri di abad 7 M masih terasa imbasnya. Khalid berperang untuk menyatukan manusia dalam kebaikan, dalam Islam, bukan untuk mencerai-beraikan.

Salah satu ciri khas tokoh yang berpengaruh dalam sejarah adalah ketika ia disegani kawan maupun lawan. Sejarawan barat bernama George Nafziger berkata: Khalid kemudian membuktikan dirinya sebagai panglima militer terbaik dalam sejarah umat manusia. (Lihat George F. Nafziger & Mark W. Walton. Islam at War: A History. Praeger Publishers, Westport, 2003. Hal. 16-17)

Para jenderal perang generasi pertama umat Islam berperang dalam rangka mengusung kemerdekaan hakiki; melepas belenggu yang ada pada manusia, baik itu keberpalingan terhadap tauhid maupun jerat-jerat penindasan yang dilukan oleh Romawi dan Persia. Ketika Islam menetap di negeri itu maka ayat-ayat Allah dibacakan, ilmu pengetahuan memancar, banyak ulama dan cendekiawan yang bermunculan, giat literasi tumbuh, dan pemimpin-pemimpin yang adil, peka, dan jujur mendominasi. Inilah kemerdekaan memang semestinya terus diupayakan.

Sumber : Mediadakwah.id

Tausiyah Lainnya

17 Agustus 2021

KHALID DAN KEMERDEKAAN