SEKILAS INFO
  • 4 bulan yang lalu / Website Masjid Oman Al-Makmur Kini Tampil dengan Wajah Baru
WAKTU :

MENGENDALIKAN HAWA NAFSU SECARA OPTIMAL (Hajarul Akbar Al Hafizh MA)

Terbit 13 May 2021 | Oleh : abuabdurrahman | Kategori : Berita
MENGENDALIKAN HAWA NAFSU SECARA OPTIMAL (Hajarul Akbar Al Hafizh MA)

Ceramah Ramadhan Ke-28 | Masjid Oman Al Makmur 

InsyaAllah kita akan mencoba merenungi beberapa firman Allah. Mudah-mudahan Ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi bisa kita tutup dengan sebaik-baiknya. Hari ini sudah 27 hari kita melaksanakan puasa dan jika setiap kita ditanya bagaimana puasanya tahun ini. Maka hampir setiap kita memberikan jawaban yang sama bahwa puasa tahun ini masih belum maksimal. Tentunya dengan berbagai alasan, entah itu karena pekerjaan, kesehatan dan lain sebagainya.

Bapak ibu, ini adalah problem. Apakah tahun depan saat diberikan Allah kesempatan untuk menjalani Ramadhan 1443 H selama 30 hari lalu jawabannya juga sama, belum maksimal. Maka pertanyaan berikutnya adalah apakah kita bisa jamin masih diberikan umur hingga Ramadhan yang akan datang?

Mari kita bahas hal ini mengapa kita sulit maksimal menjalankan perintah Allah, agar kita mendapatkan solusi atas permasalahan ini. Di dalam Al-Qur’an, ada 2 kali Allah menyebutkan kata yang hampir sama. Yang pertama di dalam surat al Furqan ayat 33-34 dan surat Al Jasiyah ayat 23.

اَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰٮهُ ۗ اَفَاَ نْتَ تَكُوْنُ عَلَيْهِ وَكِيْلًا 

“Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai tuhannya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?”
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 43)

 

اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰٮهُ وَاَ ضَلَّهُ اللّٰهُ عَلٰى عِلْمٍ وَّخَتَمَ عَلٰى سَمْعِهٖ وَقَلْبِهٖ وَجَعَلَ عَلٰى بَصَرِهٖ غِشٰوَةً ۗ فَمَنْ يَّهْدِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ اللّٰهِ ۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”
(QS. Al-Jasiyah 45: Ayat 23)

Jika kita check di jalanan saat ini, mungkin pusat-pusat perbelanjaan pada buka, ramai orang yang berbelanja di saat jam seperti ini. Jika kita tanya ke mereka, apakah anda tidak mau shalat, apakah anda tidak tau itu berdosa, apakah anda tidak tau tarawih itu pahalanya besar, apakah anda tidak tau menghidupkan malam-malam Ramadhan itu pahalanya besar. Jawabannya pasti semuanya tau. Masalahnya apa?

Ketika ketemu dengan tarawihnya lama jadi jengkel, carinya yang cepat. Atau habis tarawih cari tempat yang nyaman untuk ngopi padahal ini sudah 10 malam terakhir. Habis shubuh,  Al-Qur’an belum khatam malah mau tidur. Kalau bahasa lain, malam kekenyangan nafsunya naik, siang kelaparan nafsunya lemas sukanya tidur. Ini kenapa? Apakah mereka tidak tau?Tau. Tidak lain karena kita mengikuti & menuhankan hawa nafsu.

Apakah yang terjadi berikutnya? Sangat bahaya orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai tumpuan hidupnya. Kita lihat lanjutnya ayat tadi. Yang pertama, pendengaran kita sudah tidak bagus lagi, tidak bisa lagi dengar yang baik-baik, walaupun siang malam mengikuti ceramah dimana-mana. Hal ini hampir sama dengan yang terjadi pada orang munafiq, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Muhammad ayat 16,

وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّسْتَمِعُ اِلَيْكَ ۚ حَتّٰۤى اِذَا خَرَجُوْا مِنْ عِنْدِكَ قَا لُوْا لِلَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ مَا ذَا قَا لَ اٰنِفًا ۗ اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ طَبَعَ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ وَ اتَّبَعُوْۤا اَهْوَآءَهُمْ

“Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu (Muhammad), tetapi apabila mereka telah keluar dari sisimu, mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu (sahabat-sahabat Nabi), “Apakah yang dikatakannya tadi?” Mereka itulah orang-orang yang dikunci hatinya oleh Allah, dan mengikuti keinginannya.”
(QS. Muhammad 47: Ayat 16)

Yang kedua, Allah kunci hatinya. Hati ini sudah tidak sanggup lagi mentadabburi ayat Al-Qur’an, malam hari susah menangis dalam shalat, kurang peka dengan saudara-saudara,  anak yatim, fakir miskin karena ia selalu mengikuti hawa nafsu.

Yang ketiga, Allah tutup penglihatannya. Penglihatannya tidak bisa melihat yang baik-baik. Ketika melihat kebenaran, tidak bisa mengambil iktibar apapun, ketika melihat fenomena alam tidak ada yang bisa mengambil ibrah untuk mengagungkan TuhanNya. Kenapa? Karena tidak melihat yang benar lagi karena sering menuruti hawa nafsu.

Seandainya ini terjadi siapa lagi yang dapat memberikan petunjuk selain Allah subhanahu wa ta’ala. Apakah kalian tidak berfikir.

Solusi yang ingin disampaikan ternyata kita dalam Ramadhan ini bahwa Allah sudah memberikan treatment, ini adalah syahrut tarbiyah, bulan latihan. Selama hampir sebulan ini kita dilatih untuk memanage hawa nafsu kita. Saat ini tinggal 2 malam lagi, berlelah-lelah sedikit tidak apa-apa karena ini untuk mentarbiyah kita juga.

Ternyata jika kita lihat secara mendalam ayat tentang puasa, tujuan puasa tidak hanya sekadar taqwa saja. Tapi lebih tinggi dari itu adalah menjadikan kita hamba yang bersyukur, bisa dilihat dalam surat Al Baqarah ayat 185,

وَلِتُکْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُکَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمْ وَلَعَلَّکُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 185)

Kita bersyukur dengan tarbiyah yang sudah Allah berikan selama sebulan penuh. Maka yang diharapkan saat bulan ini berakhir, kebiasaan kita selama Ramadhan ini juga terbawa dalam bulan-bulan berikutnya sebagai tanda syukur kita. Kita jaga estavet tarbiyah dan kemandirian selama Ramadhan untuk dibiasakan dalam bulan-bulan lainnya. Semangat bangun malam dan berbagai amaliah lainnya. Mudah-mudahan kita bisa optimalkan sisa Ramadhan dengan memanage hawa nafsu kita. Berharap menjadi nafsu yang muthmainnah. Sebagaimana disebutkan dalam surat al Fajr ayat 27 – 30,

يٰۤاَ يَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ 

“Wahai jiwa yang tenang!”

ارْجِعِيْۤ اِلٰى رَبِّكِ رَا ضِيَةً مَّرْضِيَّةً 

“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya.”

فَا دْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِى 

“Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku,”

وَا دْخُلِيْ جَنَّتِى

“dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
(QS. Al-Fajr 89: Ayat 27-30)

SebelumnyaMASJID OMAN GELAR SHALAT IDUL FITRI 1442 H SesudahnyaPERSIAPKAN DIRI UNTUK AKHIRAT KITA (Tgk. Ameer Hamzah)

Berita Lainnya

0 Komentar